Rabu, 02 Januari 2008

Pemanasan Gombal!

Berakhir sudah helatan United Nation Climate Change Conference (UNCCC) yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali. Harapan besar yang diimpikan sebelum konferensi PBB untuk perubahan iklim itu digelar pupus sudah. Bagaimana tidak, negara-negara maju –terutama AS—tampak setengah hati menekan laju perubahan iklim yang mengancam penduduk Bumi.
Konferensi yang mengahasilkan dokumen Bali Road Map (Peta jalan Bali) itu berakhir tanpa solusi konkret. Seperti yang diberitakan, Bali Road Map tidak mengatur secara jelas besaran jumlah pengurangan emisi karbon bagi seluruh negara (termasuk negara maju) dalam rentang waktu tertentu. Dan kali ini, AS menunjukkan sikap pongahnya untuk kesekiankalinya.
Sikap arogan AS jelas merupakan upaya untuk melindungi industri di negaranya yang merupakan sumber utama penyokong perekonomian Paman Sam. Menurut data terbaru UNDP, AS merupakan negara penyumbang emisi karbon terbesar dengan indeks mencapai 20,6 yang menempatkan AS sebagai negara pencemar nomor wahid sedunia.
Jauh sebelum konferensi di Bali digelar, Presiden Bush tetap bersikukuh tidak akan menandatangani Protokol Kyoto yang berisi mengenai pembatasan internasional atas tingkat pencemaran polusi. Australia yang sebelumnya pro-AS pun kini melalui PM barunya Kevin Ruud telah bersedia menandatangani perjanjian demi menyelamatkan masa depan Bumi itu.
Sikap Bengal AS jelas merepotkan semua orang. Sampai-sampai mantan Wapres AS Al Gore menyebut negaranya tak tahu malu dan menuding AS sebagai biang keladi seretnya solusi atas pemanasan global yang kini tengah kita hadapi. Namun apa daya, sebagai negara adikuasa, AS tampaknya mampu menyetir setiap kebijakan internasional, termasuk tindakan penyelamatan Bumi terkait isu global warming.
Sebagai negara yang dikenal “Paru-paru Dunia”, Indonesia sudah seharusnya mendesak AS agar bersedia mengurangi tingkat emisi gas yang diproduksi. Negara kita yang terdiri dari 70 persen wilayah perairan ternyata mampu menyerap karbon sebesar 245 ton per tahun. Bukan malah kesalahan dan tanggung jawab atas isu pemanasan global ditimpakan kepada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia di dalamnya.
Faktanya, negara-negara maju yang memiliki penduduk 15 persen dari total populasi dunia, menyumbang lebih dari 70 persen dari total emisi karbon yang menyebabkan apa yang kini tengah ramai dibicarakan yakni perubahan iklim akibat pemanasan global.
Apa yang terjadi? Es di Benua Antartika meleleh dan Greenpeace Internasional memprediksi es bakal hilang di kutub utara dalam 5-6 tahun ke depan. Mencairnya salju di puncak Gunung Kilimanjaro, gagalnya panen kopi di Afrika akibat meluasnya daerah kering, kenaikan permukaan air laut (sea level rise) yang menyebabkan banjir lokal di sejumlah kawasan Asia, Afrika, dan sebagian Eropa.
Karena itu usulan yang ditujukan bagi negara maju untuk mengurangi emisi karbon sebesar 20-40 persen hingga tahun 2020 wajib dilakukan. Sebagai sesama umat manusia yang tinggal di Bumi yang sama pula, kita wajib menghentikan laju perubahan iklim. Peraturan ini wajib ditegakkan oleh semua negara mana pun, tak peduli negara berkembang atau maju. Kalau tidak, isu pemanasan global akan terus mengancam dan menjadi sebuah pemanasan gombal. Karena ketidakadilan beban dan tanggung jawab antara negara maju dan berkembang yang mengemuka.
Seorang yang saleh berkata, “ini tanda akhir zaman….”

Tidak ada komentar: