Belum lepas dari berbagai kontroversi yang menyelimuti dunia pendidikan, khususnya di kota Yogya yang juga dikenal sebagai kota pelajar, kita dikejutkan berbagai aksi kebrutalan para pelajar di kota ini. Keprihatinan tersebut timbul dari aksi tawuran yang dilakukan sekelompok oknum pelajar di kota Yogya. Seperti yang banyak diberitakan media massa, beberapa waktu lalu terjadi aksi anarkisme yang dilakukan beberapa oknum pelajar ke salah satu SMA swasta.
Tak berhenti sampai situ saja. Tawuran pelajar juga terjadi awal November lalu. Sekelompok oknum pelajar sebuah SMA swasta diciduk aparat Poltabes saat mereka hendak menyerang sebuah SMA di kawasan simpang empat SGM. Parahnya, ada seorang pelajar yang berusaha melawan (bahkan melukai) seorang petugas. Apakah ini cermin wajah siswa produk kota pelajar?
Tentu semua kalangan dan praktisi pendidikan akan mengelus dada melihat fenomena tawuran pelajar, justru, di kota pelajar seperti itu. Tak terkecuali Walikota Yogyakarta Herry Zudianto. Menyikapi hal ini, Walikota mengarahkan pihak sekolah agar lebih mendisiplinkan siswanya. Siswa tidak diperbolehkan keluar dari lingkungan sekolah saat jam pelajaran masih berlangsung. Apakah himbauan tersebut dapat berjalan efektif dan menjamin kejadian serupa tak terulang kembali?
Menurut hemat penulis, solusi dari penyelesaian aksi tawuran adalah seluruh stakeholders pendidikan (mulai dari sekolah, siswa, dan orang tua) hingga pemerintah (baik pemkot, dewan, dan kepolisian serta Satpol PP) ditambah pemuka masyarakat dan agama duduk satu meja untuk urun rembug bersama. Langkah pertama yang mesti dilakukan adalah identifikasi akar masalah. Apakah aksi tawuran tersebut bermula dari hal sepele nan remeh temeh seperti, misalnya, saling ejek sekolah atau dalam skala lebih luas, aksi saling mengejek tadi telah bersinggungan dengan SARA. Di sinilah diperlukan bimbingan dari pemuka masyarakat dan agama untuk mengarahkan anak didik yang notabene masih muda belia agar tak terjebak dalam emosi dangkal nan sesaat.
Peran orang tua di rumah untuk tak jemu-jemu menasehati anak, adalah solusi yang bijak. Pendekatan persuasif yang ‘ngemong’, tidak membentak-bentak, disertai adanya dialog dua arah dari guru tentu menjadi dambaan para siswa. Aksi tawuran pelajar di kota ini bukanlah aksi sepele. Jangan dianggap sebatas angin lalu yang dapat hilang dengan sendirinya. Karena nama Yogya turut dipertaruhkan di pentas nasional. Memudarnya predikat Yogya sebagai kota pendidikan (akibat mahalnya biaya pendidikan) jangan sampai dikorbankan lagi dengan adanya aksi tawuran para pelajar. Mungkin, jika aksi tersebut terus terjadi, beberapa waktu yang akan datang akan semakin banyak orang tua yang enggan menyekolahkan anaknya ke kota Yogya.
Terakhir, beberapa saat lalu, tak sengaja seorang rekan pelajar putih abu-abu SMA di kota ini memamerkan kepada penulis sebuah adegan perkelahian yang melibatkan para pelajar yang terekam dalam ponselnya. Dan bukan tak mungkin, adegan tersebut baru secuil dari berbagai aksi tawuran, yang terkadang, luput dari sorotan media, apalagi mendapat perhatian serius dari pemerintah dan sekolah. Bagaimana mau belajar serius menyiapakan diri menghadapai Unas, kalau tiap hari tawuran, bahkan bertindak brutal? Inilah salah satu ironi yang dihadirkan kota Yogya sebagai kota pelajar….
Selasa, 15 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar