Senin, 23 Juli 2007

Refleksi Hari Anak 2007

Tayangan TV, Kekerasan Nyata bagi Anak
Oleh: Bramma Aji P.

Anak adalah anugerah terbesar dari Yang Maha Kuasa. Menyadari hal ini, maka kewajiban bagi kita untuk menjaganya. Kewajiban tersebut bukan hanya tugas orang tua semata, namun juga menjadi kewajiban mutlak bagi lingkungan dan masyarakat serta negara. Karena anak-anak kita hari ini, kelak akan menjadi generasi penerus bangsa.
Melihat kenyataan yang terjadi akhir-akhir ini, sungguh miris hati kita. Di saat kran kebebasan informasi dibuka selebar-lebarnya, tak sedikit anak-anak yang terkena dampak negatifnya. Salah satunya adalah tayangan televisi kita yang semakin hari semakin ‘bebas’ dan ‘liar’.
Kita lihat, tiga genre tayangan teve yang mendapat porsi besar saat ini adalah mistis, kekerasan, dan pornografi. Tayangan berbalut mistis sempat menyita perhatian publik beberapa waktu lalu. Hampir semua stasiun televisi memiliki program unggulan berbalut mistis. Ironisnya, sintroen religisu yang marak ditayangkan berbagai teve swasta juga tak luput dari nuansa mistis. Sinetron yang sejatinya menyuguhkan pesan-pesan moral malah dibungkus oleh mistifikasi agama yang berlebihan.
Kesan yang didapat dari sinetron religius bukan malah menyadarkan orang untuk selanjutnya insyaf, malah terekam kuat dalam memori bahwa "beragama itu adalah sesuatu yang memberatkan nan menakutkan." Kesan semacam ini kuat dihadirkan dalam adegan ‘jenazah gosong’, ‘jenazah ditolak bumi’, sampai ‘jenazah terendam air di liang lahat’. Kematian adalah rahasia milik Sang Khaliq. Toh jika selama hidup bertabiat buruk dan berbuata dzalim, dan ketika meninggal terjadi kejadian ‘aneh’ saat pemakaman, harus menjadi rahasia orang-orang yang kebetulan melihatnya. Bukan malah diangkat ke layar kaca dan disebarluaskan ke masyarakat luas. Paradoks, mengingat kedudukan agama sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Di samping itu, televisi juga gencar menayangkan siaran berbau kekerasan. Mulai dari cerita seputar dunia kriminal sampai booming gulat bebas yang menuai kotroversi masyarakat beberapa waktu lalu. Cerita tentang pihak yang berwajib menangkap penjahat (kelas teri, tentu saja) dipertontonkan secara vulgar. Atau mayuat korban pembunuhan sadis ditayangkan secara terbuka. Belum lagi cerita mengenai anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual (dicabuli, disodomi, dsb) malah disorot kamera secara terus menerus. Betapa pedih hati mereka!
Di tayangan lain kita akan mudah menemui nuansa kekerasan yang dihadirkan film-film kartun Jepang. Memorak-porandakan isi rumah, saling pukul antarteman, dan berbagai adegan lain yang penuh atribut kekerasan. Mungkin bagi kita –orang yang lebih dewasa—adegan tersebut hanyalah kartun biasa, namun tidak bagi anak. Tokoh dalam film kartun adalah patron yang wajib ditiru segala tindak tanduknya. Generasi macam apa yang bakal dilahirkan dari tayangan semacam ini? Generasi preman yang senantiasa mengedepankan kekuatan okol untuk menyelesaikan masalah. Bukan tak mungkin jika kelak menjadi pemimpin (anggota dewan, misalnya), gebuk-gebukan di gedung parlemen bukan persoalan tabu untuk dilakukan.
Tayangan ketiga yang kini tengah mewabah adalah siaran teve yang dibalut pornografi. Sebagian besar tayangan jenis ini dapat ditemui dalam wajah sinetron kita hari ini. Kehidupan cinta anak remaja (yang kelewat batas) menjadi scenario favorit sinetron teve. Hal ii kian diperparah kelakuan para artis muda yang notabene figure publik. Meski tak semuanya, namun tak sedikit yang ketahuan beradegan mesra dengan pacarnya. Adegan yang tak pantas dilakukan (apalagi dipublikasikan), ini tersiar luas via ponsel dan internet.
Alasan klise seperti, "maaf, waktu itu saya sedang khilaf" tak serta merta menebus dosa yang diperbuat. Terlebih, sekali lagi, karena mereka adalah figure publik yang semestinya menjadi panutan masyarakat. Apalagi para pemirsa kecil yang mengidolakannya.
Generasi Karbitan
Melihat fenomena di atas, tak berlebihan kiranya jika anak-anak kita hari ini adalah cermin generasi karbitan. Yakni generasi yang dipaksa dewasa sebelum waktunya. Mereka dicekoki berbagai tayangan yang seharusnya ditujukan bagi orang yang lebih dewasa.
Maka jangan heran, kekerasan –baik fisik maupun psikis—banyak dialami anak-anak kita hari ini. Melihat tayangan mistis dengan menampilkan fenomena ‘penampakan’, bakal melahirkan generasi penakut. Rasa takut berlebihan bakal menimbulkan generasi yang takut akan masa depannya. Apalagi bersaing di era global. Di saat teknologi informasi dunia tengah membuncah hebat-hebatnya, anak-anak kita masih terbelenggu nilai-nilai stagnasi dalam gerak modernisasi.
Setali tiga uang dengan tayangan kriminal. Anak-anak bakal berpikir bahwa ia kini dibesarkan dalam lingkungan yang tidak aman dan dipenuhi kejahatan. Semakin prihatin saat motif kejahatan ditiru oleh mereka. Dan jangan heran pula, kasus bunuh diri yang dilakukan anak usia dini kian marak.
Tayangan penuh adegan kekerasan mengajarkan hokum rimba bagi anak, siapa yang paling kuat dia yang berkuasa. Kecenderungan homo homini lupus (manusia serigala bagi yang lain) menggejala kian tak terperi.
Tayangan berbau pornografi jelas santapan empuk untuk ditiru. Alhasil, mereka dengan mudah melakukan perbuatan yang belum semestinya dilakukan. Generasi macam apa yang bakal dilahirkan kelak? Generasi penerus yang bermoral rendah serta bermental lemah. Karena hidup dalam dunia fantasi ciptaannya sendiri, sembari bersikap bodoh terhadap dunia nyata.
Cepat atau lambat, bangsa kita bakal kehilangan karakter dan jati dirinya. Bangsa yang tidak memiliki karakter dan jati diri akan terseret arus liar globalisasi. Dipandang remeh bangsa lain dan menjadi kuli di negeri sendiri. Tayangan bermutu rendah jelas tidak akan melahirkan generasi handal yang mampu mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Pemerintah dan pemilik media (terutama teve) harus menunjukkan tanggung jawabnya secara moral dan social. Mengurangi porsi tayangan bermutu rendah dan mengimbanginya dengan tayangan-tayangan mendidik yang berguna membentuk karakter bangsa.
Jika tidak, maka ajakan sehari tanpa teve yang dilakukan sebuah LSM di Jakarta (JP,21/7) patut diwujudkan. Informasi dapat kita peroleh dari media lain, semisal surat kabar. Lagipula apa yang didapat dari teve? Cerita mistis yang menjurus syirik, cerita kriminal yang penuh sarkasme, dan tayangan pornografi yang kelewat murahan. Televisi saat ini tak ubahnya ‘monster’ nyata bagi tumbuh-kembang anak.
Bramma Aji P.